hai sahabat ikhwan dan akhwat sekalian, kali ini saya akan mengepost kan tentanag pergaula dalam islam dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam
kehidupan sehari-harinya manusia tidak bisa melakukan kegiatan sendiri.
Bahkan hampir setiap tindakan dan kegiatan yang akan dilakukan oleh
seorang manusia pasti melibatkan peran orang lain. Oleh karena itu,
selain disebut sebagai makhluk individu manusia juga disebut sebagai
makhluk sosial. Sebagai makhluk sosial, manusia tidak bisa hidup
sendirian.
Seiring perannya sebagai makhluk sosial,
manusia membutuhkan interaksi dalam berhubungan dengan manusia lainnya.
Untuk itulah perlu adanya pergaulan, yaitu suatu cara seseorang untuk
melakukan sosialisasi dengan lingkungannya. Pergaulan itu penting untuk
mengangkat manusia dalam kaitan sebagai makhluk sosial.
Alquran telah mengajarkan banyaknya tata
pergaulan dalam Islam. Namun, pandangan Alquran mengenai pergaulan
dalam Islam ini tidak mendapat cukup banyak perhatian. Tidak adanya
perhatian itu agaknya bukan karena perkara pandangan dasar tentang
eksistensi, hakikat, dan makna tingkah laku manusia itu tidak penting.
Tetapi lebih karena dalam dunia pemikiran Islam klasik masalah itu
terbahas dalam berbagai tempat secara terpencar, misalnya ilmu tasawuf.
Padahal, sejatinya Alquran telah jelas-jelas mengajarkan perihal
pergaulan dalam Islam, misalnya yang tercantum dalam Q.S. al-Hujurat:
10-13.
Lalu bagaimana sebenarnya pergaulan dalam Islam itu? Simak tata pergaulan dalam Islam menurut Alquran.
1. Sesama Mukmin Itu Bersaudara

Pada prinsipnya sesama mukmin itu
bersaudara maka dilarang berpecah-belah. Umat Muslim harus bersatu padu,
hal yang sulit terjadi pada akhir-akhir ini karena perbedaan paham,
ideologi, politik, bahkan hanya karena perbedaan cara pandang.
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat,” (Q.S. al-Hujurat: 10).
2. Tidak Boleh Saling Menghina dan Merendahkan
Tata pergaulan dalam islam selanjutnya
yaitu dilarang saling menghina dalam segala hal. Misalnya dalam ayat di
bawah ini yaitu dilarangnya menghina dengan sebutan (kunyah) yang buruk. Ayat ini bisa dilebarkan tidak hanya pada konteks menghina dalam sebutan saja, tetapi lebih luas.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا يَسْخَرْ قَومٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ وَلا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلا تَنَابَزُوا بِالألْقَابِ بِئْسَ الاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الإيمَانِ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat maka mereka itulah orang-orang yang zalim,” (Q.S. al-Hujurat: 11).
3. Tidak Boleh Saling Curiga, Mencari-Cari Kesalahan Orang Lain, dan Larangan Menggunjing
Hal-hal yang perlu dihindari pada pergaulan dalam islam yaitu larangan saling mencurigai, misalnya su’udzon
terhadap sesama Muslim. kemudian yang lain mencari-cari keslahan orang
lain, dan perintah larangan menggunjing. Perbuatan yang demikian
diibaratkan memakan bangkai saudaranya sendiri. Sungguh perilaku yang
menjijikkan.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلا تَجَسَّسُوا وَلا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ
Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), Karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang,” (Q.S. al-Hujurat: 12).
4. Perintah Saling Mengenal
Tata pergaulan dalam islam yang terakhir adalah tuntutan dari Allah yang memerintahkan untuk saling mengenal atau ta’aruf. Banyak yang mengartikan ta’aruf secara sempit misalnya hal yang diperlukan ketika akan mencari pasangan hidup. Padahal sejatinya ta’aruf di sini berarti luas. Ketika konsisten dengan konteks pergaulan dalam islam, ta’aruf
berarti harus dapat mengenal sifat, karakter, agama, pola pikir, dan
lain sebagainya. Sehingga dari hal itu semua dapat bersosialisasi dengan
orang manapun secara baik.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal,” (Q.S. al-Hujurat: 13).
Begitulah secuil ajaran dasar tentang
pergaulan dalam Islam di dalam Alquran, lengkap dengan petunjuk praktis
pelaksanaanya. Apabila hal itu bisa tercapai maka tercapailah
persaudaraan umat Islam. Lalu dapat dikembangkan menjadi persaudaraan
kemanusiaan. Wallahualam bisawab.
Wassalamualaikum wr. wb.


0 komentar:
Posting Komentar